Rabu, 27 Maret 2013

Tuturan Penolakan


Cotoh tuturan penolakan :

Situasi: tuturan berlangsung dengan menggunakan bahasa tulisan, pada saat itu perkuliahan sedang berlangsung. A menawarkan ajakannya kepada B.

A : Pide. mu nak ikut kami kepustaka ntik ?
B : Liat dulu Tari, aku ntik mau bayar uang kuliah dulu.
A : Ok lah, no Problem Cinta..

Tuturan penolakan oleh B di atas termasuk ke dalam bentuk tuturan yang menggunakan alasan. Karena agar terlihat lebih santun B menolak ajakan A dengan menggunakan alasan.

Proposal


Ragam Bentuk Bahasa Penolakan Di Kelas 6e
Jurusan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Islam Riau Tahun 2013

KATA PENGANTAR
            Alhamdulillah puji syukur senantiasa penulis persembahkan kehadirat Allah Swt. atas rahmat, bimbingan, dan hidayah-Nya kepada penulis. Atas izin Allah Swt. skripsi dengan judul “Ragam Bentuk Bahasa Penolakan Di Kelas 6e Jurusan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau Tahun 2013” dapat terselesaikan dengan baik.
            Skripsi ini ditulis untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd). Skripsi ini merupakan hasil kerja keras yang maksimal sesuai dengan tenaga dan kemampuan yang ada pada penulis. Namun, jika masih terdapat kesalahan dan kekurangan, semua itu di luar kemampuan penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun, sangat penulis harapkan demi terciptanya sebuah kesempurnaan tulisan yang akan datang. Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan informasi kepada pembaca dan kiranya dapat bermanfaat bagi penulis selanjutnya.
Banyak rintangan dan hambatan yang dialami oleh penulis dan begitu banyak pula pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Oleh karena itu, sudah sepantasnya pada kesempatan ini penulis menyatakan terima kasih kepada :
1.  Teristimewa untuk ayahanda (Sugimun) dan ibunda (Siti tukirah) yang telah bersedia melahirkan dan membesarkan penulis dengan penuh kasih sayang. Doa yang senantiasa mengiringi perjalan penulis, segala fasilitas dan pendidikan serta motivasi yang tidak terkira;
2.      Drs. Nazirun. M.Ed, selaku Dekan Fkultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau;
3.   Roziah, M.A, selaku ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau;
4.    Dra. Erni, M.pd, selaku pembimbing I yang selalu meluangkan waktu dan pikirannya dalam mengarahkan penulis;
5.     Herwandi, M.Pd, selaku pembimbing II yang selalu merlakan waktu untuk membimbing dan mengarahkan penulis;
6.  Seluruh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau;
7.     Firmadoni, sebagai suami tercinta yang senantiasa memberikan dukungan baik moril maupun materil, selalu bersedia mendampingi penulis untuk menyelesaikan penelitian ini;
8.  Sri Wulan Dari, adik mungil yang selalu mramaikan suasana dan selalu memberikan semangat dalam penyelesaian penelitian ini;
9.      Teman-teman seperjuangan angkatan 2010 khususnya kelas E yang disayangi Allah Swt.
Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tulisan ini.

Pekanbaru, 09 Maret 2013

Penulis

Semantik Bahasa Indonesia

1. Proses yang Mengakibatkan Perubahan Makna

1.1 Hubungan Sintagmatik
            Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan. Misalnya dalam kalimat "Saya menulis artikel", terdapat hubungan sintagmatik antara 'saya', 'menulis', dan 'artikel' dalam pola kalimat SPO.
Satuan leksikal dapat mengalami perubahan arti karena :
a. kekeliruan pemenggalan morfem-morfemnya. Misalnya kata 'pramugari' yang terjadi dari awalan pra- dan bentuk dasar mugari 'pembantu tuan rumah pada peralatan, di penggal menjadi pramu- dan -gari. pemenggalan yang salah ini dipakai untuk menghasilkan bentuk-bentuk lain dengan analogi, sehingga muncul bentuk-bentuk seperti pramuniaga, pramuwisra.
b. persandingan yang lazim, yang disebut kolokasi. misalnya bentuk nasib yang dapat bersanding dengan baik dan buruk, dan yang lebih sering muncul adalah nasib buruk daripada nasib baik. Contoh : "Memang sudah nasibnya harus hidup sebatang kara pada usia yang begitu muda."
c. penghilangan salah satu unsurnya. Misalnya,  pada kata acuk tak acuh yang berarti 'tidak menghiraukan' menjadi acuh dengan arti yang sama 'tidak menghiraukan'.

1.2 Rumpang di dalam Kosa Kata
a. penyempitan makna. Misalnya, pesawat 'alat atau mesin', di kalangan penerbanagn menyempit maknanya sehingga sama dengan pesawat terbang.
b. perluasan makna. Misalnya, di samping saudara kandung, muncul pula ayah kandung, walaupun ayah tidak pernah bersalin atau mengandung dan ayah tidak tidak berasal dari satu kandung. Bentuk kandung kemudian memiliki hubungan pertalian kekerabatan.
c. pemakaian metafor atau kiasan. Misalnya, lapisan (masyarakat), pada kenyataannya hanya sebagai perbandingan dengan benda yang berlapis-lapis dan yang dimaksud adalah kelas-kelas (masyarakat).

1.3 Perubahan Konotasi
            Konotasi atau disebut juga tautan pikiran yang menyertai makna kognitif, sangat bergantung kepada pembicaranya, pendengar, dan situasi yang melingkupi. Misalnya, kata pesangon lebih positif maknanya dibandingkan dengan kata uang pengusir.

1.4 Peralihan dari Pengacauan yang Konkret Menjadi Abstrak
            Misalnya, kata menangkap (dengan tangan) menjadi menangkap (dengan akal).

1.5 Sinestesia
            Sinestesia adalah penggabungan dua macam tanggapan pancaindera terhadap satu hal yang sama. Sinestesia dapat mengakibatkan perubahan makna, pengalaman pahit terjadi kombinasi antara pancaindera perasa (pengalaman) dan indera pengecap (pahit).