Ye,,, di beliin tas baru.
Rabu, 03 April 2013
Senin, 01 April 2013
Proposal
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Masalah
1.1.1
Latar Belakang
Bahasa memegang peranan penting
dalam kehidupan. Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Oleh
karena itu, terdapat hubungan yang erat antara bahasa dan komunikasi dalam kehidupan
manusia. Karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu
bergantung dan tidak lepas dari individu yang lain. Dalam hubungan antar
individu satu dengan yang lain memerlukan bahasa untuk saling berinteraksi.
Terdapat
delapan prinsip dasar bahasa menurut Andreson dalam Tarigan (2009:3) yakni ;(a)
bahasa adalah suatu sistem, (b) bahasa adalah vokal (bunyi ujaran), (c) bahasa
tersusun dari lambang-lambang arbitrer, (d) setiap bahasa bersifat unik, khas,
(e) bahasa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan, (f) bahasa adalah alat
komunikasi, (g) bahasa berhubungan erat dengan budaya tempat berada, dan (h)
bahasa selalu berubah-ubah.
Tarigan
(2009: 6) mengatakan “Adalah suatu kenyataan bahwa manusia menggunakan bahasa
sebagai sarana komunikasi vital dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa adalah
milik manusia, dan bahasa adalah salah satu ciri pembeda manusia dengan makhluk
lain. Setiap anggota masyarakat terlibat dalam komunikasi linguistik, disatu
pihak dia bertindak sebagai pembicara dan dipihak lain sebagai penyimak, dan
dari penyimak.” Menurut Halliday (dalam Tarigan 2009:7) terdapat tujuh fungsi
bahasa yaitu :
1. Fungsi
instrumental, melayani pengelolaan lingkungan, menyebabkan peristiwa-peristiwa
tertentu terjadi.
2. Fungsi
regulasi, bertindak untuk mengawasi serta mengendalikan peristiwa-peristiwa.
3. Fungsi
representasional, adalah penggunaan bahasa untuk membuat pernyataan-pernyataan,
menyampaikan fakta dan pengetahuan.
4. Fungsi
interaksional, bertugas untuk menjamin serta memantapkan ketahanan dan kelangsungan
komunikasi sosial.
5. Fungsi
heuristik melibatkan penggunaan bahasa untuk memperoleh ilmu pengetahuan,
mempelajari seluk beluk lingkungan.
6. Fungsi
imajinatif melayani penciptaan sistem-sistem atau gagasan-gagasan yang bersifat
imajinatif.
7. Fungsi
personal memberi kesempatan kepada seorang pembicara untuk mengekspresikan
perasaan, emosi serta reaksi yang mendalam.
Sebagai
alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki oleh manusia, bahasa
dapat dikaji secara internal maupun secara eksternal. Kajian secara internal
artinya pengkajian itu hanya dilakukan terhadap struktur internal bahasa itu
saja, seperti struktur fonologinya, struktur morfologinya atau struktur
sintaksisnya. Kijian secara internal ini akan menyajikan hasil perian-perian
bahasa itu saja tanpa ada kaitannya dengan masalah lain di luar bahasa. Kajian
internal ini dilakukan dengan menggunakan teori-teori dan prosedur-prosedur
yang ada dalam disiplin linguistik saja.
Sebaliknya,
kajian secara eksternal, berarti kajian itu dilakukan terhadap hal-hal atau
faktor-faktor yang berada di luar bahasa yang berkaitan dengan pemakaian bahasa
itu oleh para penuturnya di dalam kelompok-kelompok sosial kemasyarakatan.
Pengkajian secara eksternal ini akan menghasilkan rumusan-rumusan atau
kaidah-kaidah yang berkenaan dengan kegunaan dan penggunaan bahasa tersebut
dalam segala kegiatan manusia di masyarakat.
Morris dalam Chaer
(2004: 3) menjelaskan,
Bahasa sebagai
sistem lambang, membedakan adanya tiga macam kajian bahasa berkenaan dengan
fokus perhatian yang diberikan. Jika perhatian difokuskan pada hubungan antara
lambang dengan maknanya semantik; jika fokus perhatian diarahkan pada hubungan
lambang disebut sintaktik; dan kalau fokus perhatian diarahkan pada hubungan
antara lambang dengan para penuturnya disebut pragmatik.
Leech dalam Charlina
(2007: 11) menyatakan “Pragmatik merupakan studi mengenai makna ujaran dalam
situasi-situasi tertentu.” Pragmatik merupakan prinsip-prinsip penggunaan
bahasa. Pragmatik mengkaji maksud penutur dalam menuturkan sebuah tuturan.
Berbeda halnya dengan semantik yang
mengkaji makna dari sebuah tuturan. Semantik mempelajari makna secara internal,
sedangkan pragmatik mempelajari makna secara ekstenal. Makna yang dikaji semantik
adalah makna yang bebas konteks, sedangkan makna yang dikaji pragmatik adalah
makna yang terikat oleh konteks.
Pengguna bahasa dalam
kehidupan sehari-hari pada umumnya lebih mengutamakan keberhasilan dalam
menggunakan bahasa daripada mementingkan keberhasilan kegramatikalan
ujaran-ujaran mereka. Memang tata bahasa pada umumnya diajarkan secara formal
di sekolah, sedang masyarakat umum belajar bahasa lewat ujaran-ujaran yang
komunikatif yang disampaikan terus menerus oleh keluarga dan lingkungan dengan
memperhatikan situasi dan kondisi interaksi yang sedang berlangsung.
Sebagai
contoh, berikut ini penulis paparkan dua buah ujaran yang maknanya lebih banyak
dipengaruhi olah jauh dekatnya hubungan antara partisipan di dalam pergaulan
mereka. Kebiasaan mengemukakan pendapat sesuai dengan tata cara pergaulan dalam
masyarakat, norma, dan nilai-nilai yang dianut dalam budaya, pergaulan,
pengetahuan yang sama-sama dimaklumi oleh partisipan dipertimbangkan semua
untuk menghasilkan ujaran-ujaran yang tepat, bukannya diatur oleh makna harfiah
setiap kata yang dipergunakan.
(1) Wani
piro ? (Berani berapa ?)
(2) Pakai
honda Ana ja Tar ! Aku mau ke atas dulu.
Ujaran
(1) yang berupa kalimat tanya dimaksudkan oleh salah satu penutur kelas 6e
ketika diminta menghapus papan tulis oleh ketua tingkat. Sedangkan kalimat (2)
dalam konteks yang merupakan penolakan untuk meminjamkan sepeda motornya kepada
temannya.
Sesuai
dengan contoh tersebut, penolakan yang merupakan reaksi negatif terhadap suatu
permintaan atau ajakan memiliki bahasa tertentu sesuai dengan berbagai faktor sosial
yang berpengaruh. Sehubungan dengan berbagai bentuk penolakan yang ada
dimasyarakat, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang ragam
bahasa penolakan yang digunakan di kelas 6e, Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Islam Riau.
Penulis
tertarik untuk meneliti masalah tersebut karena beberapa pertimbangan; pertama,
berdasarkan penggunaan bahasa sebagai sarana penyampaian informasi dan
pemakaian bahasa untuk maksud-maksud tertentu misalnya untuk penolakan. Untuk
mengetahui maksud ujaran tersebut maka diperlukan pendekatan yaitu pendekatan
pragmatik. Untuk menyampaikan suatu penolakan, mengapa digunakan bahasa dan
cara penyampaian yang berbeda.
Alasan
mengapa penulis melakukan penelitian di kelas 6e karena penulis merasa lebih
dekat dengan mahasiswa yang berada di kelas tersebut. Kedekatan penulis dengan
mahasiswa kelas 6e akan mempermudah penulis dalam melakukan penelitian.
Mengingat penelitian yang penulis lakukan terkait dengan penelitian bahasa dan teknik
yang penulis gunakan adalah teknik simak libat cakap yang menuntut penulis
terjun langsung ke lapangan dalam penyedian data akan mempermudah penulis untuk
proses penyedian data.
Penelitian
ini merupakan penelitian lanjutan. Penelitian yang relavan dengan masalah yang
penulis lakukan berpedoman pada penelitian yang dilaksanakan oleh (1) Fatmawati
pada tahun 2011 yang berjudul Prinsip
Kesantunan Tuturan Penolakan Mahasiswa Kelas A Program Studi Pendidikan Bahasa
Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau Angkatan
2007 skripsi UIR, membahas mengenai kesantunan tuturan penolakan mahasiswa
kelas A angkatan 2007 yang mencakup (1) maksim kebijaksanaan, (2) maksim
kedermawanan, (3) maksim penghargaan, (4) maksim kesederhanaan, (5) maksim
kemufakatan, (6) maksim simpati. Teori-teori yang digunakan dalam penelitian
tersebut adalah : pragmatik, prinsip kesopanan, dan bentuk penolakan. Metode
yang digunakan oleh Fatmawati adalah metode deskriptif. Hasil akhir
penelitiannya adalah: bentuk penolakan
yang paling banyak digunakan dalam tuturan penolakan mahasiswa kelas A Program
Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UIR adalah bentuk penolakan dengan
menggunakan alasan, dan yang paling sedikit adalah bentuk penolakan dengan
ucapan terimakasih.
Penelitian
yang sama juga pernah dilakukan oleh Loesy pada tahun 2012 yang berjudul Analisis Kesantunan Pada Tindak Tutur
Penolakan Siswa Kelas 1 SMA Datuk Batu Hampar Kecamatan Tenayan Raya Kota
Pekanbaru Tahun Ajaran 2011-2012 skipsi UIR yang membahas mengenai analisis
kesantunan pada tindak tutur penolakan siswa kelas 1 SMA yang mencakup (1)
maksim kebijaksanaan, (2) maksim kedermawanan, (3) maksim penghargaan, (4)
maksim kesederhanaan, (5) maksim kemufakatan, (6) maksim simpati. Teori yang
diguanakan tidak jauh berbeda dengan teori yang digunakan oleh Fatmawati yaitu:
maksim-maksim dalam prinsip kesopanan. Metode yang digunakan juga menggunakan
metode deskriptif yang menggambarkan dan memaparkan kenyataan yang sebenarnya
yang ditenui di lapangan. Hasil akhir penelitian ini adalah dalam bahasa
penolakan yang digunakan oleh siswa kelas 1 SMA Datuk Batu Hampar Kecamatan
Tenayan Raya Kota Pekanbaru Tahun Ajaran 2011-2012 terdapat dua bentuk tuturan
penolakan yaitu: tuturan penolakan secara langsung dan tuturan penolakan secara
tidak langsung.
Berdasarkan
penelitian-penelitian terdahulu, penelitian mengenai bahasa penolakan yang
penulis lakukan bukanlah hal baru di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Islam Riau. Persamaan dengan peneliti-peneliti
sebelumnya adalah sama-sama menganalisis bahasa penolakan dan teori-teori yang
digunakan. Sedangakan perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya
adalah terletak pada objek penelitiannya. Objek yang penulis gunakan adalah
mahasiswa kelas 6e angkatan 2010, sedangakan pada penelitian sebelumnya oleh
Fatmawati objeknya mahasiswa kelas A angkatan 2007, dan penelitian yang
dilakukan oleh Loesy adalah siswa kelas 1 SMA.
Penelitian
ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoretis maupun praktis. Manfaat
teoretis dari penelitian ini adalah dapat memperluas wawasan kebahasaan,
khususnya pragmatik menuju pada kenyataan-kenyataan kebahasaan dan dapat
memperkaya kajian tentang pemakaian bahasa khususnya pada bentuk bahasa
penolakan. Sedangkan manfaat praktis dari penelitian ini adalah dapat
memberikan informasi tentang pentingnya memperhatikan konteks atau situasi
bahasa bagi para pemakai bahasa khususnya untuk melakukan ungkapan penolakan
dan dapat memberikan informasi tentang kekayaan tindak berbahasa khususnya
dalam bentuk bahasa penolakan.
1.1.2 Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka
untuk memberi fokus dan arah yang jelas pada penelitian ini penulis perlu
kemukakan masalah yang akan diteliti. Untuk lebih jelasnya, permasalahan dalam
penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimana
bentuk bahasa penolakan yang terdapat di kelas 6e FKIP UIR?
2. Faktor
apa saja yang mempengaruhi bentuk bahasa penolakan di kelas 6e FKIP UIR?
1.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas
maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk
mendeskripsikan bentuk bahasa penolakan yang terdapat di kelas 6e FKIP UIR;
2. Untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk bahasa penolakan di kelas 6e
FKIP UIR.
1.3 Ruang Lingkup Penelitian
Kajian ini termasuk ke dalam ruang
lingkup disiplin ilmu bahasa bidang pragmatik khususnya bahasa penolakan. Dalam
bahasa penolakan dikaji hal-hal yang bersangkutan dengan bentuk bahasa dan
faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk bahasa penolakan tersebut.
1.3.1 Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini penulis
membatasi masalah pada bentuk bahasa penolakan yang dituturkan oleh mahasiswa
kelas 6e FKIP UIR. Ungkapan penolakan di kelas 6e yang tidak dituturkan oleh
mahasiswa kelas 6e tidak diteliti dalam penelitian ini.
1.3.2 Penjelasan Istilah
Judul penelitian ini memakai
beberapa istilah yang perlu diketahui dan dibatasi agar tidak terjadi
kesalahpahaman oleh pembaca sesuai dengan masalah yang penulis teliti dalam
tulisan ini yang berjudul “Ragam Bentuk
Bahasa Penolakan Di Kelas 6e FKIP UIR.”
1. Ragam
bahasa adalah bentuk-bentuk atau variasi bahasa (Charlina 2007: 15);
2. Bahasa
adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan untuk berkomunikasi
oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
(Kridalaksana 2001: 21);
3. Penolakan
adalah reaksi negatif terhadap suatu ajakan, permintaan atau tawaran
(Kridalaksana 2001: 21);
4. Maksim
adalah suatu pernyataan ringkas yang mengandung maksud ujaran atau maksud
tertentu (Depdiknas 2008: 865).
Tak tahan
Ini adalah pertama kalinya aku ketemu dengan keluarga yang di Padang, meskipun dah satu tahun aku dengan nya, aku tak tau apakah sikap ku memberikan kesan baik atau buruk kepada mereka. sungguh aku tak bisa menahan air mata ne,
Malu sebenarnya, tapi mau gimana lagi. sesak betul dah rasanya. seiba itu hati aku, sampai tak bisa aku menahannya. Yang jadi pertanyaan ku, ngapalah orang tu tega bilangnya depan aku. seandainya di belakang aku dia bilang tak pa lah, kan tak dengar sama aku. aku tau posisi aku yang sekarang, tapi apakah posisi yang kedua itu harus selalu dibandingkan dengan yang pertama ?
Ntahlah, yang jelas sekarang sakit kali hati aku.,
rasanya tak mau lagi aku kesana. udah terlanjur malu, ternyata orang pertama itu masih membayangi mereka.
Malu sebenarnya, tapi mau gimana lagi. sesak betul dah rasanya. seiba itu hati aku, sampai tak bisa aku menahannya. Yang jadi pertanyaan ku, ngapalah orang tu tega bilangnya depan aku. seandainya di belakang aku dia bilang tak pa lah, kan tak dengar sama aku. aku tau posisi aku yang sekarang, tapi apakah posisi yang kedua itu harus selalu dibandingkan dengan yang pertama ?
Ntahlah, yang jelas sekarang sakit kali hati aku.,
rasanya tak mau lagi aku kesana. udah terlanjur malu, ternyata orang pertama itu masih membayangi mereka.
Manfaat tomat
Eh, ternyata toman itu banyak manfaat untuk kesehatan kulit wajah loh,,
nih, ada beberapa manfaat tomat untuk kamu yang punya masalah dengan kulit wajah yang berminyak.
Mengecilkan
pori-pori besar
Pori – pori
besar bisa menjadi akses masuknya kotoran sehingga memicu terjadinya infeksi
pori – pori. Ambil satu sendok makan jus tomat segar. Tambahkan 2 – 4 tetes air
jeruk nipis segar. Gunakan bola kapas untuk menerapkan campuran ini pada wajah
anda. Pijat dalam gerakan melingkar. Biarkan selama sekitar 15 menit dan
kemudian bilas dengan air dingin. Aplikasi teratur akan mengecilkan pori – pori
lebih cepat.
Menyembuhkan
Jerawat
Keasaman
buah tomat membantu mengurangi kotoran dan membersihkan jerawat Anda. Vitamin A
dan vitamin C biasanya ditemukan dalam banyak obat jerawat dan tomat termasuk
sayuran kaya akan vitamin A, vitamin C dan vitamin K.
Jika anda
memiliki jerawat ringan, potong tomat menjadi dua bagian dan oleskan pada
wajah. Untuk jerawat parah, masker tomat segar bisa digunakan. Buat bubur atau
pasta tomat lalu oleskan pada wajah. Biarkan selama satu jam. Bilas dan gunakan
pelembab. Lakukan ini secara teratur atau sebanyak yang Anda bisa. Jerawat
dijamin akan mengering dan kulit kembali mulus.
Mengatasi
Minyak Di Kulit
Jika anda
memiliki kulit berminyak, tomat adalah solusi untuk penderitaan anda. Parut
tomat segar dan saring lalu tambahkan jus ketimun kecil kedalamnya. Lalu
oleskan jus dengan kapas ke seluruh wajah.
Menghilangkan
Komedo
Sebuah tomat
dan masker avokad bisa menjadi kombinasi produk perawatan kulit yang baik.
Tomat bekerja sebagai zat pengusir komedo dan mengurangi minyak, sementara
avokad memiliki efek antiseptik dan pelembab.
Tumbuk satu
buah tomat dan tambahkan tumbukan avokad sebagai kombinasi pembersih dan
pelembab kulit. Dua kombinasi alami ini bisa menenangkan dan membersihkan kuit,
cocok untuk kulit berminyak dan kering. Kaya vitamin A, C dan E. Terapkan paket
ini, diamkan selama 20-30 menit dan bersihkan dengan air hangat.
Mengatasi
Peradangan Kulit
Sengatan
matahari bisa membakar kulit, sering menimbulkan efek kemerahan, bahkan gatal
akibat paparan sinar matahari. Parut setengah tomat dan campur dengan dua
sendok makan yogurt polos. Oleskan ramuan ini pada wajah, leher, tangan dan
kaki. Bilas setelah 20 menit. Tomat mendinginkan kulit dan menetralkan
permukaan kulit, sementara yogurt memberi protein yang sangat dibutuhkan kulit.
Semoga bermanfaat yah...!!!
Langganan:
Postingan (Atom)